Cerpen


Nothing Is Impossible

Bumi mulai menggeliat mengeluarkan suara-suara kehidupan. Ayam mulai berkokok seiring sinar merah di timur. Malam berganti pagi namun aku masih menikmati indahnya mimpi. Sesekali aku meraba-raba selimut yang tergulung menyingkap. Di kedalaman mimpi, aku masih sangat sibuk, belum mau beranjak dari ranjang yang empuk. Riuh suara ibuku memanggil tidak terdengar olehku. Karena memang kamarku yang berada di lantai atas sehingga suara dari bawah itu kurang terdengar.
Udara masih begitu dingin ketika akhirnya aku telah menghabiskan masa liburan panjang kemarin. Hari ini adalah hari dimana aku harus memulai lagi rutinitas seperti biasa sebagai seorang pelajar. Tahun ini aku lulus dari sekolah menengah pertama.. Lulus SMP aku melanjutkan ke SMA di daerahku, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahku hanya berjarak kurang dari 500 m. Sekolah itu bernama SMA Negeri 5 Bandung. Aku termasuk beruntung bisa masuk di sekolah tersebut, karena banyak teman-temanku yang tidak diterima disana.
Setelah berbagai persiapan yang dilakukan akhirnya hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Hari ini aku mulai mengikuti acara mos atau masa orientasi siswa, namun namanya sudah berganti menjadi MPLS atau masa pengenalan lingkungan sekolah. MPLS ini juga berbeda dengan mos pada tahun sebelumnya, yang mengharuskan siswanya membawa berbagai peralatan dan perlengkapan yang cukup ‘ribet’. Aku sangat senang dengan sekolah baruku ini, lingkungannya asri dan nyaman. Bangunan sekolahnya pun bagus dan luas, banyak pepohonan rindang dan juga lapangan basket dan futsal.
Saat itu aku masuk di kelas PLS 5, disana banyak teman yang belum aku kenal. Mereka datang dari berbagai macam sekolah. Beruntung aku duduk dengan teman yang sudah aku kenal sejak SD, ia bernama Nadia. Setiap siswa memperkenalkan dirinya masing-masing di depan kelas mulai dari nama lengkap, nama panggilan, alamat, hingga sekolah asal. Kemudian giliranku untuk memperkenalkan diri, “Halo.. namaku Fira Anindya Putri, kalian bisa memanggilku fira, aku tinggal di Jalan Andalas No.56, aku berasal dari SMP Negeri 1 Pelita Bangsa, terima kasih..”ucapku kepada teman-teman di kelas setelah itu aku duduk kembali ke tempatku.
Kami pun diperkenalkan tentang sekolah baru kami oleh pembimbing di kelas, dan ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Kami diberi jadwal tentang kegiatan apa saja yang harus dilakukan selama MPLS ini. Saat itu tiba hari dimana diadakannya psikotes. Psikotes ini bertujuan untuk mengetahui bakat dan kemampuan  siswa dan siswi.
Sejak lulus SMP, aku sudah bertekad di SMA nanti, aku ingin sekali masuk di kelas IPA, karena sejak dulu aku memang senang sekali dalam berhitung terlebih pelajaran matematika. Aku tidak ingin masuk kelas IPS karena aku memang kurang menyukai pelajaran IPS seperti sejarah, salah satu alasannya adalah banyak hafalan yang aku kurang minati, mungkin kalau sekedar tahu saja tak jadi masalah.
Selesai sudah tes psikotes itu, dan hasilnya yang aku tunggu-tunggu, aku berharap bisa masuk di kelas IPA. Aku pun terus berdo’a agar hasilnya memuaskan. Beberapa hari kemudian setelah tes psikotes dilaksanakan, kami diberitahu akan ada pembagian kelas, nama siswa dan siswi itu dipajang di setiap kelas IPA dan IPS, pagi itu sangat ramai dan riuh karena banyak anak yang berlalu-lalang dan mencari-cari namanya. Begitupun aku, aku mendatangi setiap kelas untuk melihat daftar nama siswa siswi yang terpampang di kaca kelas, mulai dari IPA sampai IPS. Aku mulai menyusuri koridor menuju kelas IPA, lalu aku cari satu persatu namaku disana, mulai dari IPA 1, IPA 2, IPA 3, IPA 4, sampai IPA 5. Namun aku bertanya-tanya, mengapa tidak ada namaku disana, aku pun mulai khawatir dan pikiranku berkecamuk, gelisah dan bingung.
Kemudian, aku melanjutkan mencari namaku menuju kelas IPS, tiba-tiba temanku Thania menyapaku, “Hai Fira, kamu sekelas denganku ya, ini kelas kita, kelas IPS 2.” Lalu aku sontak kaget dan tidak percaya bagaimana mungkin harapanku pupus untuk bisa masuk di kelas IPA, aku pun mengecek daftar nama di kelas IPS 2 dan benar saja namaku terpampang diantara nama siswa lainnya. Dengan perasaan sedih aku masuk kelas itu dan duduk disebelah temanku Thania, ia menawarkan duduk bersama denganku. Hari itu aku mencoba ikhlas dan berlapang dada.
Aku duduk termenung di kelas masih memikirkan hal tersebut, dan mencoba menahan butiran air yang keluar dari mataku. Dan temanku menenangkanku. Lalu aku berfikir, “mungkin ini jalanku, mungkin ini yang terbaik untukku.”ucapku dalam hati. Hari itu aku ikhlas dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas IPS 2.
Tiba di rumah, aku menceritakan semua kejadian yang ada di sekolah kepada kedua orang tuaku. Termasuk aku masuk di kelas IPS, saat itu juga aku menangis, hari itu pikiranku kacau.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa, dan masuk ke kelas IPS 2. Kemudian ada staf TU yang mengatakan bahwa, “Nanti akan ada perubahan kelas, dan dari setiap kelas ada beberapa siswa yang mungkin dipindahkan”. Aku pun sedikit merasa senang apakah ini kesempatanku untuk bisa pindah kelas.
Saat itu juga di setiap kelas ditempel kertas berisi daftar nama siswa-siswi yang sudah direvisi. Aku pun bergegas keluar kelas untuk melihat daftar nama itu, saat aku mancari satu persatu nama di daftar siswa kelas IPS 2, aku kaget bukan main karena tidak melihat namaku tertulis disitu. Pikiranku mulai terbayang kemana-mana, apa benar aku pindah kelas dan kemanakah aku pindah?” tanyaku dalam hati.
Keadaan koridor pun ramai dan riuh karena siswa-siswi banyak yang penasaran untuk mengecek kembali nama mereka di daftar siswa. Beberapa saat kemudian sambil aku menyusuri setiap kelas untuk mencari namaku, seorang temanku bernama Karin menghampiriku, “Ehh fir, kamu pindah ke kelasku yaa.. kelas X IPA 5, kelasnya ada di pojok sana.” kata dia sambil menunjuk ke arah pojok. Aku sungguh terkejut dan tak menyangka, kemudian aku segera membawa tasku dari IPS 2 menuju ke kelas IPA 5. Aku berjalan sendiri menyusuri koridor, saat tiba di depan kelas ternyata ada dua orang siswa juga yang pindah ke kelas IPA 5. Karena pada saat itu ada jam pelajaran di kelas IPA 5 aku pun menunggu beberapa saat di luar kelas. Selama menunggu di luar, aku dan dua anak laki-laki itu berbincang-bincang.
“Hai, kamu juga pindah ke kelas ini?” tanya anak itu.
“Eh, iya, aku dari kelas IPS 2.”jawabku.
“Oh, aku dari kelas IPS 4. Namaku Rafka,salam kenal ya. Namamu siapa?”
“Namaku Fira, oh iya, itu temanmu?” tanyaku kepada Rafka sambil menunjuk kepada teman disebelahnya.
“Iya, kenalin ini temanku namanya Radit. Maaf ya memang dia agak pemalu, haha.” jawab Rafka sambil sedikit tertawa.
“Oh, oke gapapa.”
Sesaat kemudian aku, Rafka dan Radit mencoba meminta izin untuk masuk kelas. Dan kemudian kami pun dipersilakan masuk, tanpa berlama-lama aku langsung mencari tempat duduk yang kosong, seorang teman perempuan yang duduk paling depan menawarkanku untuk duduk disampingnya. Tak kusangka sekarang aku benar-benar berada di kelas IPA, dan aku pun berkenalan dengan teman-teman sekelas tak terasa lama-kelamaan aku mulai beradaptasi dengan mereka.
Dua tahun berlalu dan sekarang aku sudah dikelas XII SMA, aku melalui hari-hariku di kelas IPA dari kelas 10 sampai sekarang, dan aku senang karena memiliki banyak teman di sekolah ini. Semoga kenangan ini dapat terus diingat hingga aku dewasa dan aku bisa sukses di masa depan. Dari sini aku belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kuncinya adalah yakin dan selalu berusaha untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan, buktinya aku bisa belajar di kelas IPA yang aku inginkan sejak dulu walapun aku sempat sedih karena awalnya aku masuk di kelas IPS. Sejatinya Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik untukku, dan kita harus selalu berbaik sangka dan selalu berharap kepada Allah swt. agar apa yang kita harapkan tidak mengecewakan di kemudian hari.

Komentar

  1. Cerita yg disampaikan sangat mengesankan sehingga bisa menarik minat pembacanya

    BalasHapus
  2. Bagus kak ceritanyaa.. lanjutkan πŸ‘

    BalasHapus
  3. Bagus kak ceritanyaa.. lanjutkan πŸ‘

    BalasHapus
  4. Keren ceritanya.😊 sarannya, tadi ada penulisan nama yang huruf nya kecil. Perbaiki lagi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke.. nanti akan diperbaiki, terima kasih atas koreksinya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Essay

Contoh Surat Lamaran Pekerjaan

Artikel